Search

Mengenal Urtikaria: Penyakit kulit yang menyerang siapa saja termasuk kalangan Artis!

Updated: May 11


Beberapa waktu lalu, media gempar dengan berita penyakit kulit yang diderita oleh salah satu artis KPOP ternama, yang ternyata menderita urtikaria atau yang dikenal dengan istilah biduran. Yuk mengenal lebih dalam apa sih urtikaria itu!


Pengertian Urtikaria Urtikaria adalah lesi pada lapisan atas kulit akibat reaksi vaskular berupa pelebaran dan kebocoran pembuluh darah. Urtikaria ditandai dengan benjolan berbatas tegas dengan ukuran bervariasi dari kecil hingga besar. Urtikaria juga bisa disertai dengan keterlibatan lapisan kulit lebih dalam yang disebut dengan angioedema.


Apa saja macam-macam Urtikaria ?

Urtikaria dapat dikelompokkan menjadi :

a. Urtikaria spontan, yaitu urtikaria yang muncul tiba – tiba atau akibat pajanan dengan suatu alergen yang sebelumnya tidak menimbulkan reaksi alergi, terdiri dari dua tipe yaitu :

  • Akut : yang berlangsung kurang dari 6 minggu

  • Kronis : yang berlangsung lebih dari 6 minggu.

Urtikaria kronis lebih sering ditemukan pada orang dewasa dan 40% disertai angioedema, sedangkan pada anak-anak yang terkena urtikaria, 85% tidak disertai angioedema.


b. Urtikaria fisik atau diinduksi, yaitu urtikaria yang muncul setelah terpapar faktor pencetus spesifik, seperti:

  • Urtikaria kontak dingin, dicetuskan oleh udara/air/angin dingin

  • Urtikaria akibat tekanan, dicetuskan oleh tekanan vertikal

  • Urtikaria kontak panas, dicetuskan oleh panas yang terlokalisir

  • Urtikaria solaris, dicetuskan oleh sinar UV atau sinar tampak

  • Urtikaria demografik, dicetuskan oleh kekuatan mekanis

  • Urtikaria fibratori, dicetuskan oleh getaran


c. Kelainan urtikaria lain

  • Urtikaria angiogenik, dicetuskan oleh air

  • Urtikaria kolinergik, dicetuskan oleh peningkatan suhu tubuh (demam)

  • Urtikaria kontak, dicetuskan akibat kontak dengan bahan yang memicu reaksi alergi

  • Urtikaria yang diinduksi oleh latihan fisik


Mengenal Penyebab dan Faktor Risiko Urtikaria

Penyebab urtikaria sangat bervariasi, antara lain karena faktor stres, obat-obatan, makanan (contohnya cokelat, makanan laut, susu, telur, pewarna makanan), udara dingin ataupun panas, rangsangan fisik, terpapar bahan yang dapat merangsang terjadinya urtikaria, penyakit mendasar lain yang menyebabkan reaksi inflamasi (peradangan) kronis misalnya pada infeksi (virus, bakteri, jamur), COVID-19, penyakit autoimun, hingga keganasan. Meski demikian, sebanyak 50% bersifat idiopatik atau artinya tidak diketahui penyebab jelas yang menyebabkan urtikaria tersebut.


Temuan Gambaran Kulit

Gambaran kulit yang ditemukan yaitu benjolan berukuran dan berbentuk variatif, berbatas tegas, benjolan dapat berwarna pucat hingga kemerahan, kulit sekitar benjolan umumnya merah disertai rasa gatal, sensasi terbakar/tertusuk. Keluhan ini dapat muncul dibagian tubuh manapun dan berlangsung biasanya dalam kurun waktu 1 - 24 jam.




Gambar Urtikaria.

Sumber: webMD [https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/picture-of-hives-urticaria]



Gambar Angioedema Sumber : Ciaccio C. E. (2011). Angioedema: an overview and update. Missouri medicine, 108(5), 354–357. [ https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6188378/]



Apakah ada pemeriksaan khusus untuk Urtikaria ?

Kebanyakan urtikaria tidak membutuhkan pemeriksaan penunjang selain tes alergi. Namun, apabila dicurigai bahwa urtikaria yang dialami bersifat kronis atau merupakan gejala dari penyakit lain, maka dibutuhkan pemeriksaan laboratorium lanjutan seperti darah lengkap, tes provokasi, pengambilan sampel dari kulit dan pemeriksaan lainnya berdasarkan penilaian dokter untuk menyingkirkan kecurigaan atau mencari penyakit lain yang mendasari munculnya urtikaria.


Apa yang harus dilakukan ?

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah urtikaria yaitu, pertama kita harus mengetahui terlebih dahulu kira-kira faktor pencetus apa yang menyebabkan urtikaria karena setiap orang memiliki pencetus yang berbeda. Setelah mengetahui kemungkinan pencetusnya, kita bisa menghindari paparan dengan faktor tersebut. Tindakan lain yang juga bermanfaat adalah manajemen stres. Meskipun mekanisme antara stres dan urtikaria belum jelas, namun bukti ilmiah mengindikasikan adanya hubungan antara keduanya. Apabila sudah muncul urtikaria, kita dapat mengobati gejala menggunakan bedak kocok maupun lotion dengan kandungan mentol 0.5 – 1% atau kalamin yang dijual bebas untuk mengurangi rasa gatal, serta konsultasikan ke dokter untuk diberikan obat anti alergi (antihistamin) topikal (obat oles luar) ataupun obat minum.


Apakah Urtikaria bisa berbahaya ?

Umumnya urtikaria dapat sembuh sendiri dalam waktu < 24 jam, tetapi bisa juga terjadi komplikasi berupa reaksi alergi berat yang ditandai dengan lesi kulit luas hampir diseluruh tubuh hingga muncul angioedema dan pembengkakan pada lidah serta tenggorokan yang mengakibatkan tertutupnya jalan napas yang dapat mengancam nyawa. Jadi jangan anggap sepele biduran dan segera ke fasilitas kesehatan klinik atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lanjutan oleh dokter ya!




Sumber :


Djuanda, A. (2015). Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Tan, D., & Darmawan, H. (2016). Buku Panduan Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin (1st ed.).


Perdoski. (2017). Panduan Praktik Klinis bagi dokter spesialis kulit dan kelamin di Indonesia. (2022). Retrieved 21 April 2022, from https://perdoski.id/uploads/original/2017/10/PPKPERDOSKI2017.pdf


Maurer, M., Eyerich, K., Eyerich, S., Ferrer, M., Gutermuth, J., & Hartmann, K. et al. (2020). Urticaria: Collegium Internationale Allergologicum (CIA) Update 2020. International Archives Of Allergy And Immunology, 181(5), 321-333. doi: 10.1159/000507218


Zuberbier, T., Aberer, W., Asero, R., Abdul Latiff, A., Baker, D., & Ballmer-Weber, B. et al. (2021). The EAACI/GA²LEN/EDF/WAO guideline for the definition, classification, diagnosis and management of urticaria. Alergologia, 4(7), 155. doi: 10.26416/aler.6.4.2021.5815


Schaefer, P. (2022). Acute and Chronic Urticaria: Evaluation and Treatment. Retrieved 21 April 2022, from https://www.aafp.org/afp/2017/0601/p717.html



132 views0 comments